jump to navigation

Peta yang salah 24 November 2008

Posted by Kangsata in Renungan.
trackback

Belajar di sekolah kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa kita
melihat dunia sesuai dengan peta realitas yang bermukim di kepala
kita. Peta realitas bukan realitas itu sendiri. Sama seperti peta
Indonesia bukan wilayah Indonesia yang sesungguhnya; peta Medan
bukan kota Medan itu sendiri; peta Bandung bukan kota Bandung itu
sendiri; dan semua peta bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Peta
hanyalah penggambaran atas suatu wilayah, tetapi bukan wilayah itu
sendiri. Wilayah tak bisa salah, karena ia merupakan fakta,
kenyataan, apa adanya. Namun, peta bisa (atau bahkan sering) salah,
sebab ia merupakan gambar yang dibuat oleh orang tertentu, dengan
asumsi-asumsi dan tujuan tertentu, dalam keadaan dan cara tertentu.
Dan jika peta yang kita pegang sebenarnya keliru—sementara kita
tidak menyadari kekeliruan tersebut—maka kesimpulan yang kita ambil
dalam hal tertentu boleh jadi akan sangat keliru.

Sebagai contoh, seorang kawan saya pernah menuturkan pengalamannya
mencari tempat pondokan di Bandung, paruh kedua tahun 1970-an. Tidak
seperti rekan-rekan perantauan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang
mudah dapat pondokan, kawan yang datang dari tanah Batak ini
ternyata sulit menemukan pemilik pondokan yang mau menerimanya. Dan
setelah ditolak disana-sini, akhirnya ia mendapatkan pondokan yang
semua penghuninya orang Batak (rumah kontrakan). Baru belakangan ia
ketahui bahwa penolakan yang diterimanya itu disebabkan oleh
perbuatan perantau-perantau Batak terdahulu, yang suka kabur dan
tidak membayar uang pondokan. Hal mana membuat para pemilik
pondokan “memandang” semua perantau Batak akan berbuat demikian.
Artinya, sejumlah pemilik pondokan di Bandung memiliki “peta” bahwa
perantau dari Batak “semuanya suka kabur dan tak membayar sewa
pondokan sebagaimana mestinya”. Lalu semua orang Batak diperlakukan
sama dan sebangun sesuai dengan “peta” di kepala para pemilik
pondokan tersebut.

Tentu saja peta mental yang demikian itu tidak sepenuhnya benar. Ada
yang tidak lengkap, cacat, tak sempurna. Ia hanya merupakan
perampatan (generalisasi) yang berlebihan. Namun, siapa yang bisa
melarang orang membuat “peta realitas” di kepalanya sendiri? Siapa
yang bisa melarang jika ada sementara orang yang menganggap warga
Tionghoa selalu bertindak asosial dan apolitik? Siapa yang bisa
melarang persepsi tentang perempuan Sunda dan Manado sebagai tukang
dandan dan pesolek? Siapa yang bisa menolak untuk dianggap plintat-
plintut tidak bisa tegas, hanya karena ia lahir di Yogya atau Solo?
Atau siapa yang bisa mewajibkan setiap orang untuk percaya bahwa
masih ada penegak hukum di republik bernama Indonesia ini yang
konsisten anti korupsi dan kebal suap?

Peta kita terhadap realitas tak bisa dipaksa oleh orang lain, tetapi
kita bangun sendiri berdasarkan pengalaman sejak kecil, digabungkan
dengan pengetahuan dan wawasan sebagai hasil pembelajaran pribadi,
dan dipengaruhi pula oleh ambisi dan cita-cita pribadi. Peta kita
terhadap realitas tak bisa dijangkau oleh aturan perundang-undangan
yang berlaku. Peta kita terhadap realitas beroperasi dalam diri
kita, membentuk sikap dan perilaku kita sehari-hari.

Secara amat jenaka, kesalahan kita dalam mempersepsi realitas
kehidupan bisa diilustrasikan oleh cerita tentang tukang cukur yang
tidak mempercayai keberadaan Tuhan, seperti yang beredar di sejumlah
milis internet. Berikut kutipannya:

Seorang pria datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan
merapikan jambangnya. Sambil mulai memotong rambut pria tersebut,
tukang cukur itu mengajak konsumennya itu untuk memperbincangkan
sejumlah topik yang hangat. Mulai dari soal cuaca, beralih ke
situasi ekonomi, menteri-menteri yang tak becus bekerja, harga BBM
yang makin mahal tak karuan, dan akhirnya perbincangan sampai ke
soal-soal iman dan keberadaan Tuhan.

“Saya tidak percaya Tuhan itu ada,” kata tukang cukur mantap. Seolah-
olah ia sudah memeriksa alam semesta dan tidak berhasil menemukan
Tuhan.

“Kenapa kamu berkata begitu ?” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Katakan
kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada orang sakit? Mengapa ada
anak-anak terlantar? Mengapa ada orang jahat, perang dan bencana?
Mengapa koruptor bebas berkeliaran, sementara orang jujur hidup
dalam kesusahan? Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha
Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi, kalau IA benar-benar
ada. Iya ‘kan?”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak menemukan
jawaban yang tepat. Ia tak ingin berdebat kusir. Apalagi tukang
cukur telah menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah membayar, pria itu pergi meninggalkan tempat si tukang
cukur. Baru beberapa langkah dari tempatnya bercukur, ia melihat ada
orang-orang di jalan dengan rambut yang panjang dan terurus. Ada
juga yang rambutnya berombak kasar, ada yang keriting, dan semuanya
nampak begitu kotor. Sebagian orang nampak memiliki jambang yang tak
terpelihara, kusut tak karuan.

Pria itu seolah-olah mendapatkan ilham. Ia kembali ke tempat tukang
cukur dan berkata,”Kamu tahu, sebenarnya tidak ada tukang cukur di
kota ini.”

Terkejut dengan pernyataan itu, si tukang cukur bertanya, “Kamu kok
bisa bilang begitu? Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan
saya mencukurmu! Apa itu tidak cukup jelas?”

“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika
ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang dan kotor,
berjambang kusut tak karuan seperti orang-orang yang di luar sana.”

“Oh, itu salah mereka sendiri. Kalau mereka datang pada saya dan
bercukur, mereka pasti akan nampak lebih rapi,” sanggah si tukang
cukur.

“Persis!” kata pria yang habis bercukur itu. “Itulah pesan utamanya.
Sama dengan Tuhan yang Anda katakan tadi. Tuhan itu ada. Tetapi,
banyak orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya,
sehingga hidup mereka dibebani banyak masalah.”

Si tukang cukur terbengong!

Cerita di atas bisa dipahami dengan berbagai cara. Bagi saya
sendiri, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari cerita semacam
itu adalah: sebuah analogi yang cerdas bisa menjawab pertanyaan yang
rumit sekaligus menghindarkan kita dari kecenderungan debat kusir
yang tak berujung. Pria yang sudah bercukur itu tidak berdebat
dengan si tukang cukur tentang apakah Tuhan ada atau tidak. Ia hanya
meminjam fakta lain di sekitarnya untuk menolong si tukang cukur
menyadari bahwa petanya tentang Tuhan (bahwa Tuhan itu tidak ada)
bukanlah kebenaran tentang ada tidaknya Tuhan. Ada tidaknya Tuhan
tidaklah ditentukan oleh pemahaman, pengertian, atau pun pengakuan
si tukang cukur tersebut. Sama seperti ketika orang merasa Tuhan
tidak adil, tidak dengan sendirinya berarti Tuhan benar-benar tidak
adil, bukan?

Begitulah. Peta realitas, persepsi, asumsi, cara pandang, atau
paradigma kita mendikte sikap dan perilaku kita sehari-hari. Dan
bila banyak persoalan muncul dalam kehidupan, kita mungkin perlu
memeriksa kembali sudah benarkah perilaku kita, atau sudah tepatkah
sikap-sikap yang kita pilih? Jangan-jangan inti masalahnya justru
bertumpu pada peta realitas, sesuatu yang lebih mendasar dari
sekadar perilaku atau sikap? Jika masalahnya menyangkut peta
realitas, persepsi, asumsi, cara pandang, atau paradigma, maka
solusi paling tokcer adalah metanoia alias pertobatan. Begitukah?

Sumber: Peta Yang Salah oleh Andrias Harefa, Pembelajar Mindset
Transformation Certified Trainer and Therapist, Penulis 30 Buku
Laris

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: